Islam Adalah Agama Wahyu
Khutbah Pertama:
oleh Al-Ust. Alimul Muhtasyam
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ
وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا
اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ
الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ
مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا
اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ
اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ
اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Kaum muslimin, rahimakumullah
Islam adalah agama wahyu. Maksudnya, semua ajarannya bersumber
dari Alquran dan sunah yang merupakan wahyu. Allah menurunkannya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat
Jibril.
Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Kalamullah, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ketika orang kafir menentang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam agar mendatangkan Alquran selain yang sudah ada tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa melakukannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengikuti wahyu yang diturunkan kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Kalamullah, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, ketika orang kafir menentang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam agar mendatangkan Alquran selain yang sudah ada tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa melakukannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengikuti wahyu yang diturunkan kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
قُلْ مَايَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ
مِن تِلْقَآءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَايُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ
إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku
menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang
diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Rabbku kepada
siksa hari yang besar (kiamat)”. (QS Yunus: 15)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
menegaskan bahwa Muhammad itu manusia biasa yang menerima wahyu dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ
يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini
hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa
sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Ketika orang-orang kafir tetap menuduh
bahwa Alquran itu buah karya Rasulullah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menentang
mereka untuk membuat karya semisal Alquran, namun mereka tidak bisa
melakukannya sama sekali.
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa
Alquran yang merupakan sumber ajaran Islam adalah wahyu dari AllahSubhanahu
wa Ta’ala. Selain Alquran, sumber lain yang juga merupakan wahyu ialah
sunah; yang diberikan kepada Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ
ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن
كَانُوا مِن قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia
kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang
rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan
Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali-Imran: 164)
Yang dimaksud dengan al-hikmah adalah
sunah
Kaum muslimin rahimakumullah
Di depan sudah disampaikan, Islam
adalah agama wahyu, maka kewajiban kita sebagai kaum muslimin adalah
melaksanakannya semampu kita sesuai dengan panduan wahyu yang diturunkan
Allah Subhanahu wa Ta’alatersebut. Ketika beribadah, kita beribadah
sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bukan dengan cara-cara baru yang kita rasa baik. Karena perasaan bukan landasan
agama, apalagi perasaan masing-masing orang itu berbeda-beda. Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan,
namun dia tidak dapat meraihnya.”
Itulah kewajiban pertama kita terkait
keberadaan Islam sebagai agama wahyu. Dan itu juga merupakan salah satu syarat
diterimanya ibadah yang dilakukan oleh seseorang; tanpa itu, tertolak
sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam ;
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ
“Barangsiapa melakukan satu amalan
yang tidak ada tuntunannya dari kami maka itu tertolak.” (HR. Muslim).
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
Khutbah Kedua:
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهُ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Kaum muslimin rahimakumullah
Kewajiban kedua yang juga merupakan
syarat diterima amal ibadah kita adalah ikhlas karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ
لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا
الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya
dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:
5)
Kaum muslimin rahimakumullah,
Ikhlas adalah amalan hati, bukan amalan
lisan. Ikhlas tidak perlu disampaikan kepada orang lain. Dan keikhlasan
seseorang dalam beramal pasti diketahui oleh Allah, meskipun orang tersebut
tidak mengucapkannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha
Mengetahui niat yang terpendam dalam hati seseorang.
Ikhlas ini, wahai saudara-saudaraku,
meski singkat dan mudah dilafalkan, akan tetapi sangat susah direalisasikan.
Perhatikanlah perkataan Imam ats-Tsauri rahimahullah yang menjelaskan betapa
susahnya menjaga niat ini. Beliau rahimahullah mengatakan, “Saya tidak pernah
mengobati sesuatu yang lebih susah bagi saya melebihi susahnya saya mengobati
niat”.
Ini perkataan seorang Ulama yang tidak
diragukan keshalihannya, lalu bagaimana dengan orang seperti kita di tengah
banyaknya gempuran godaan dunia?! Hendaklah kita terus mengintrospeksi diri
kita dan terus memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
kita dijadikan termasuk para hamba yang ikhlas.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Keikhlasan seseorang dalam beramal
mempunyai efek yang luar biasa terhadap nilai amalan yang dilakukannya, jika
ibadah yang dilakukannya itu untuk mencari dunia, maka sebatas itu yang
didapatkan: sementara di akhirat ia tidak akan mendapatkan apa pun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا
لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ
النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan
dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan
mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah
apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).
Dengan keikhlasan, amalan yang ringan
menjadi besar ganjarannya, bahkan dengan niat yang ikhlas, seseorang bisa
mendapatkan pahala, meskipun dia belum sempat beramal karena terhalang oleh
udzur. Simaklah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ
غَزْوَةِ تَبُوْك فَدَنَا مِنَ المَدِيْنَةِ فَقَالَ ( إِنَّ بِالمَدِيْنَةِ
أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيْرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوْا
مَعَكُمْ ). قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَهُمْ بِالمَدِيْنَةِ؟ قَالَ ( وَهُمْ
بِالمَدِيْنَةِ حَبَسَهُمْ العُذْرُ )
Dari Anas bin Malik bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kembali dari
perang Tabuk dan mendekat ke Madinah, beliau bersabda, “Sesungguhnya di kota
Madinah terdapat beberapa kaum yang tidaklah kalian menempuh satu perjalanan
atau menyebrangi lembah kecuali mereka senantiasa bersama kalian (dalam
pahala)”, Para shahabat bertanya (keheranan) “Wahai Rasulullah, padahal mereka
berada di kota Madinah,” Rasulullah menjawab, “Ya, padahal mereka berada di
kota Madinah, mereka tertahan oleh udzur (HR. al-Bukhari)
Ibnul-Mubarak rahimahullah mengatakan
bahwa betapa banyak amalan yang kecil namun menjadi besar pahalanya disebabkan
oleh niat, dan betapa banyak amalan yang besar namun karena niat juga
ganjarannya menjadi sedikit.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Demikianlah hal kedua yang perlu kita
perhatikan agar amal ibadah yang dilakukan dalam keislaman kita menjadi
bermanfaat. Pertama, melaksanakannya sesuai dengan tuntutan wahyu; dan yang
kedua ikhlas, hanya mengharap balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن
لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ
عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar